Senin, 08 November 2010

Menikmati Sore di Panjunan



Kelurahan Panjunan terletak di pusat kota Cirebon. Panjunan merupakan perkampungan kuno dengan mayoritas penduduk keturunan Arab, karena itu Panjunan juga dijuluki dengan sebutan kampung Arab. Panjunan didirikan oleh seorang Pangeran Arab dari Baghdad yang bernama Maulana Abdul Rahman, yang datang ke Cirebon untuk berguru Agama Islam kepada Sunan Gunung Djati. Sang pangeran beserta keluarga dan rombongannya dari Baghdad memutuskan untuk menetap di suatu tempat yang letaknya tidak jauh dari Pusat Kerajaan Cirebon. Untuk menghidupi keluarganya sang pangeran bekerja sebagai pengrajin dan pedagang keramik, karena itu beliau dijuluki dengan nama Pangeran Panjunan (panjunan berasal dari kata jun yang berarti keramik).
Di Panjunan juga terdapat sebuah masjid yang dikenal dengan sebutan masjid merah, yang didirikan pada tahun 1453, jauh lebih tua dari Masjid Agung Keraton Kasepuhan Sang Cipta Rasa yang didirikan pada tahun 1549. Disebut masjid merah karena seluruh dinding masjid ini terbuat dari bata teracota berwarna merah. Uniknya, arsitektur masjid ini merupakan perpaduan beberapa budaya seperti budaya hindu sebagai pengaruh Majapahit, budaya Arab dan budaya China. Jejak budaya China sangat tampak terlihat pada piring-piring keramik asal negeri china yang menempel pada dinding Masjid Merah.
Pada sore hari, tak jauh dari Masjid Merah dapat kita temui pedagang Mi Koclok, kuliner khas Cirebon yang terbuat dari mi dengan kuah putih kental dan gurih terbuat dari beras dan santan, di tambah dengan sisiran ayam dan irisan telur rebus. Membuat makanan ini terasa begitu lezat, apa lagi sambalnya yang dapat menambah selera makan kita bertambah lahap.
Pada sore hari, di seberang pedagang mi koclok juga biasanya dapat kita temui pedagang jajanan pasar, seperti arem-arem, naga sari, koci dan jajanan pasar lainnya yang cocok kita bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk di rumah.
Karena itu, jika anda memiliki waktu luang di sore hari, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Panjunan untuk menikmati lezatnya mi koclok dan suasana kampung Arab yang kental nuansa sejarah Islamnya. (NC)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar